Read More
Dokter pribadi Peres yang turut menemaninya mengatakan kepada situs berita di Israel Ynet, bahwa kepala negara tidak sekarat. Kemungkinan hanya butuh istirahat dan pengawasan semalam di rumah sakit sebelum kembali pada pekerjaannya.
"Kondisinya memuaskan," kata dokter Rafi Valdan yang juga menantu Peres, seperti dilansir Reuters.
"Kita mengirimnya (ke RS) untuk pengecekan, dan saya harap beliau bisa kembali bekerja besok," imbuhnya.
Menjelaskan alasan pingsannya Peres, Valdan mengatakan "Kondisi (cuaca) terlalu panas dan dia berdiri cukup lama dan mulai merasa lemas."
"Beliau pingsan dalam beberapa detik. Sekarang beliau merasa baik, senyum dan berbicara melalui telepon kepada tiap orang," pungkasnya.

Soldier Of Allah...hmmm pertama kali saya mengenal nama ini sekitar 6 tahun yang lalu dalam sebuah rumah kost2an yang kurang lebih saya diami dengan beberapa para sahabat dari harakah lain, begitu pertama mendengar nasyid tersebut aroma haroki mulai sangat terasa walaupun dalam koridor nuansa musik yang lain (pada umumnya nasyid berirama melayu), tim nasyid yang mengusung aliran musik rap ini begitu tepat, dan langsung menuju sasaran lirik2nya, subhanallah deh pokoknya :)... salah satu lirik yang saya suka adalah lirik dari lagu imaginary walls lebih begini liriknya :
“Imaginary walls”
by: Soldiers of Allah
(Heart beat….getting faster)
Huu…I thought we were one UMMAH
Look at us Now…
Jordan Arabia Iran
Egypt Indonesia Sudan
Tunisia Algeria Amman
Iraq Kashmir Philistine
Albania Bosnia Kurdistan
Spain Half France Hindustan
of
Somalia Lebanon Azerbaijan
Melesia Libya Kazakhstan
Bangladesh Chechnia Afghanistan
Turkey Cypress Pakistan
Kuwait .. Ch…explosion……..
Bismillah – AR – Rahman – AR – Raheem
Allah made us ONE UMMAH!
No divisions in this Deen
Islam is our creed
Halall is our means
Pledge your allegiance to Islam
Cuz ISLAM will set you free
We bringing in…..
Different Dawah carriers
We’re coming in from different lands
But we see no barriers
Lyrics to reach your ears
Educate our minds with Islam
And Inshallah his disease of nationalism
Will disappear
Gave up all my nationalistic ties
Even though my family hated it
Put away your patriot games
Cuz I ain’t playing it.
You see I ran from Iran
But I’m not Iranian
Allah gave me the BOND-OF-ISLAM
And now I’m claiming it
I throw back the flag
They put in my hand
I throw it in their face
Because they destroyed OUR land
No border lines
Between our Muslim land
Cuz its Allah’s command
Cuz its Allah’s demand
Allah is my only fear
And that’s that
takbir!!!
Allahu – Akbar Allahu – Akbar
Coming in loud
Listen to this call
Breaking nationalism down
Like the Berlin wall
If they want to take me
They better take us all
Uniting under one flag of
La – Ilaha – Ilallah Mohammedun Rasul-lu-llah
Trying to deviate the Muslims
With the ayah’s that they twist
Brainwashing us with nationalism
So they can watch this Ummah split
They want us to
Stand up for their flag
But we rather sit
They like to see their flag
We like to see it lit
Never-ever-
Will I claiming to be Persian
Won’t celebrate
Their fire worshipping new year
So now I hear my mother cursing
Trying to brainwash me
Telling me that I’m Persian????
WHAT!!!??
Tools that kafirs use
Preventing the Muslims from merging
They’ve put up imaginary walls
That’s for certain
Bunch of cowards!!
Cuz they won’t fight us in person
Our Ummah is hurting
Nationalism has worsen
Won’t compromise Islam
Even when its curtains
Tearing up the flags
That these kafirs are waving up
Ain’t going to start fitna
Like that fool Lawrence of Arabia
Don’t listen to history
Our enemies are making up
They’re already claiming victory
Watching our Ummah breaking up
Doesn’t make a difference
Where you from
As long as we stand divided…
We’re going to stand stuck
There is no divisions
Between my brothers
Khalas!!…..Enough is enough!!!!!
Trying to deviate the Muslims
With the ayah’s that they twist
Brainwashing us with nationalism
So they can watch this Ummah split
They want us to
Stand up for their flag
But we rather sit
They like to see their flag
We like to see it lit
I hate fake rulers like Sadam
Like I hate the united snakes
Gaps are only for shaiton
So I leave no space
Either you’re a slave to what made-man
Or you’re a slave to what man-made
My ONLY allegiance is to Islam
And this is where I keep my faith
Inshallah let us break these kufur walls
Before Allah has us replaced
And let us unite this Ummah
Under one Mighty Islamic State!
Soldiers of Allah
Keeping it real with tight rhymes
Insh-Allah one day
We wouldn’t have to rap about
Sad times
Islamic state will be implemented
Right-right
There will be no gap between
Me & my brothers
Side by side just like our pray lines
No more imaginary walls
Brothers greeting each other worldwide
Our only bond will be Islam
Haram and Halal will be
Our only guidelines
Waking up from this coma
I see a rise of Muslim pride
A generation of Muslim youth
Who know the truth
Let’s us be the ones
Who bring this Ummah back to life
Putting Islam back into the lime light
No divisions in this Ummah
Erasing all kufuristic border lines
Leaving all man-made systems
With nothing
But just a flat line___________
Berapa kali Anda mengucapkan kalimat itu kepada istri Anda dalam sehari? Saya jelas tidak bisa menebaknya. Tapi beberapa orang suami atau istri mungkin bertanya: perlukah kata itu diucapkan setiap hari? Apa yang mungkin ‘dilakukan’ kalimat itu, dalam hati seorang istri, bila itu diucapkan seorang suami, pada saat anak ketiganya menangis karena susunya habis? Ada juga anggapan seperti ini, kalimat itu hanya dibutuhkan oleh mereka yang romantis dan sedang jatuh cinta, dan itu biasanya ada sebelum atau pada awal-awal pernikahan. Setelah usia nikah memasuki tahun ketujuh, realita dan rutinitas serta perasaan bahwa kita sudah tua membuat kita tidak membutuhkannya lagi.
Saya juga hampir percaya bahwa romantika itu tidak akan akan bertahan di depan gelombang realitas atau bertahan untuk tetap berjalan bersama usia pernikahan. Tapi kemudian saya menemukan ada satu fitrah yang lekat kuat dalam din manusia bahwa sifat kekanak kanakan —dan tentu dengan segala kebutuhan psikologisnya—tidak akan pernah lenyap sama sekali dan kepribadian seseorang selama apapun usia memakan perasaannya. Kebutuhan anak-anak akan ungkapan ungkapan verbal yang sederhana dan lugas dan ekspresi rasa cinta itu sama-sama dibutuhkan dan tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa yang satu Iebih dibutuhkan dan yang lain.
Perasaan manusia selamanya fluktuatif. Demikian pula semua jenis emosi yang dianggap dalam perasaan kita. Kadar rasa cinta, benci, takut, senangdan semacamnya tidak akan pernah sama dari waktu ke waktu. Tetapi yang mungkin terasa sublim adalah bahwa fluktuasi perasaan itu sering tidak disadari dan tidak terungkap atau disadari tapi tidak terungkap.
Situasi ini kemudian mengantar kepada kenyataan lain. Bahwa setiap kita tidak akan pernah bisa mengetahui dengan pasti perasaan orang lain terhadap dirinya. kita mungkin bisa menangkap itu dan sorotan mata, gerak tubuh dan perlakuan umum, tapi detil perasaan itu tetap tidak tertangkap selama ia tidak diungkap seeara verbal.
Perlukah detail perasaan itu kita ketahui, kalau isyarat isyaratnya sudah terungkap? Mungkin ya mungkin tidak. Tapi yang pasti bahwa kita semua, dan waktu ke waktu, membutuhkan kepastian. Kepastian bahwa kita tidak salah memahami isyarat tersebut. Bukankah kepastian juga yang diminta Nabi Ibrahim ketika beliau ingin menghidupkan dan mematikan?
Dan suasana ketidakpastian itulah biasanya setan memasuki dunia hati kita. Karena salah satu misi besar setan, kata Ibnul Qoyyim al Jauziyyah adalah memisahkan orang yang saling mencintai “Dan mereka belajar dan keduanya sesuatu yang dengannya mereka dapat memisahkan seseorang dan pasangannya.” (QS.2:102)
Dari ‘bab’ inilah ungkapan verbal berupa kata menemukan maknanya. Bahkan sesungguhnya ada begitu banyak kekurangan dalam perbuatan yang beban psikologisnya dapat terkurangi dengan kata. Ketika Anda menolak seorang pengemis karena tidak memiliki sesuatu yang dapat Anda sedekahkan, itu tentu sakit bagi pengemis itu. Tapi Allah menyuruh kita ‘mengurangi’ beban sakit itu dengan kata yang baik. Bukankah “perkataan yang baik lebih baik dan sedekah yang disertai cacian?”
******
Selanjutnya, perhatikan riwayat berikut ini: Suatu ketika seorang sababat duduk bersama Rasulullah saw. Kemudian seorang sahabat yang lain berlalu di depan mereka. Sahabat yang duduk bersama Rasulullah saw. itu berkata kepada Rasulullah saw.
“Ya Rasulullah, sesungguhnya aku mencintai orang itu.
“Sudahkah engkau menyatakan cintamu padanya?” tanya Rasulullah saw.
“Belum, ya Rasululllah.” kata sahabat itu.
“Pergilah menemui orang itu dan katakan bahwa karena kamu mencintainya,” kata Rasulullah saw
Jika kepada sesama sahabat,saudara atau ikhwah rasa cinta harus diungkapkan secara verbal, dapatkah kita membayangkan, seperti apakah verbalnya ungkapan rasa cinta yang semestinya kita berikan kepada istri kita? Apakah makhluk yang satu itu, yang mendampingi kita lebih banyak dalam saat-saat lelah dan susah dibanding saat-saat suka dan lapang, tidak lebih berhak untuk mendengarkan ungkapan rasa cinta itu?
Sekarang simak kisah Aisyah berikut ini:
Aisyah seringkali bermanja-manja kepada Rasulullah SAW. karena hanya dialah satu—satunya istri beliau yang perawan. Tapi, suatu waktu Aisyah masih bertanya juga kepada Rasulullah saw:
Jika engkau turun di suatu lembah lalu engkau lihat di situ ada rumput yang telah dimakan —oleh gembala lain— dan ada rumput yang belum dimakan, di rumput ,manakah gembalamu engkau suruh makan?”
Maka Rasulullah saw. menjawab,
Tentulah pada rumput yang belum dimakan (gembala lain). (HR. Bukhari).
Apakah Aisyah tidak tahu bahwa Rasulullah saw. sangat dan sangat mencintainya? Tentu saja tahu. Bahkan sangat tahu. Tapi mengapa ia masih harus bertanya dengan ‘metafor’ seperti di atas, dengan menonjolkan keperawanannya sebagai kelebihan yang membuatnya berbeda dan istri-istri Rasulullah saw. lainnya?
Apakah ia ragu? Saya tidak yakin kalau itu dirasakan Aisyah. Ia—dalam konteks hadits tadi— rasanya hanya menginginkan kepastian lebih banyak, peneguhan lebih banyak. Karena kepastian itu, karena peneguhan itu, memberinya nuansa jiwa yang lain; semacam rasa puas — dari waktu ke waktu— bahwa ‘lebih’ dan istri-istri Rasulullah saw yang lain, bahwa ia lebih istimewa.
Di tengah kesulitan ekonomi seperti sekarang, tidak banyak di antara kita yang sanggup memenuhi kebutuhan-kebutuhan rumah tangga secara ideal. Dan dalam banyak hal kita mungkin perlu untuk lebih ‘tasamuh’ (Toleransi/lapang dada) dalam memandang hubungan ‘hak dan kewajiban’ yang sering kali menandai bentuk hubungan kita secara harfiah. Atau mungkin mengurangi efek psikologis yang ditumbuhkan oleh ketidakmampuan kita memenuhi semua kewajibandengan ‘kata yang baik.
Anda mungkin sering melihat betapa lelahnya istri Anda menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan rumah. Mulai dari memasak, mencuci sampai menjaga dan merawat anak. Kerja berat itu sering kali tidak disertai dengan sarana teknologi yang mungkin dapat memudahkannya. Setan apakah yang telah meyakinkan kita begitu rupa bahwa rnakhluk mulia yang bernama istri saya atau istriAnda tidak butuh ungkapan “1 love,you” karena ia seorang ‘da’iyah’, karena ia seorang ‘mujahidah’ atau karena kita sudah sama-sama tahu, sama-sama paham, atau karena kita sudah sama-sama tua dan karenanya tidak cocok menggunakan cara ‘anak-anak muda’ menyatakan cinta? Setan apakah yang telah membuat kita begitu pelit untuk memberikan sesuatu yang manis walaupun itu hanya ungkapan kata? Setan apakah yang telah membuat kita begitu angkuh untuk mau merendah dan membuka rahasia hati kita yang sesungguhnya dan menyatakannya secara sederhana dan tanpa beban?
Tapi mungkin juga ada situasi begini. Anda mencintai istri Anda. Anda juga tidak terhambat oleh keangkuhan untuk menyatakannya berluang-ulang. Masalahnya hanya satu, Anda tidak biasa melakukan itu. Dan itu membuat Anda kaku.Jika Anda termasuk golongan mi, tulislah pula puisi S Djoko Damono ini dan berikanlah ia kepada istri Anda melalui putera atau puteri terakhir Anda.
Aku Ingin
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana :
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana :
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
Dikutip dari Buku “Biar Kuncupnya Mekar Jadi Bunga”
Oleh Muhammad Anis Matta (Direktur LPI Al Manar Jakarta)

Awalnya biasa saja lalu kita saling bertegur sapa (loh kok jadi lagunya dewi yul :p), bukan ding maksudnya awalnya biasa saja gue tidak menyangka bahwa isu melemahnya perekonomian dunia akan sampai ke perusahaan tempat di mana gw bekerja (yang selanjutnya kita singkat jadi PTDMGB), sampai suatu hari pada suatu malam di tengah lolongan anjing hutan (woi focus woi!!) maksudnya sampai pada suatu hari PTDMGB ini akan merumahkan atau bahasa halusnya megefisiensikan sejumlah karyawannya yang jumlahnya gak main-main (sampai lebih dari 50 %) oh iya sblmnya gw ingin menceritakan latar belakang PTDMGB ini, perusahaan yang bergerak dalam usaha rental WC penambangan nikel ini memiliki asset dan keuntungan yang luar biasa, bayangkan saja dahulu kala saat kaisar romawai ingin mempersunting mbok sutini (halah mulai ngaco lg), bayangkan saja dahulu sblm ada isu melemahnya perekonomian dunia ini keuntungan perusahaan kami dalam satu tahun bias mencapai angka ratusan milyar, dan asset-asset berupa banci salon alat beratnya mencapai angka ratusan jumlahnya, jadi bisa temen-temen bayangkan berapa investasi yang harus di keluarkan oleh pemilik PTDMGB ini,belum lagi asset lainnya berupa bumbu dapur Kuasa Penambangan (KP) yang luasnya berhektar-hektar, tp apa hendak dikata nasi sudah jadi bubur dan buburnya dah dimakan gw (Mehehehe) isu melemahnya perekonomian dunia memaksa para managemen merumahkan sejumlah karawannya, dan yang biking gw sedih sampai - sampai mengeluarkan air mata (ini serius terjadi loh) adalah diefisiensikannya temen-temen gw sendiri yang gw anggap sebagai saudara gw sendiri permasalahannya tempat kerja gw bukan di jakarta cing yang saban hari bisa balik ke rumah, masalahnya ini di tengah-tengah ibu-ibu hamil hutan belantara di sulaweasi tengah (sulteng), jadi mereka semua yang ada disitu merasa senasib dan sependeritaan, jadi kami sudah seperti keluarga sendiri, apa-apa pasti bareng kayak makan bareng, shalat bareng, mandi bareng (yang terakhir gak loh) yah kayak gitu-gitu deh, pokoknya seru-seruan bareng. (bersambung..)


